10.1.11

Perang Melawan Alam, siapa menang?

Lahan kita adalah tempat rezeki "kami" (burung pipit haji)
penjaga lahan padi sawah mengusir burung
dengan menggunakan ketapel
lokasi: lahan padi sawah Lhamlhom, kecamatan Lhoknga
Aceh Besar - Aceh
Foto oleh : Novrizal

jika kita berjalan santai lalu melewati lahan persawahan gampong Lamlhom kecamatan Lhoknga maka sepanjang mata memandang penunh dengan lahan sawah dimana padi yang mulai menguning menandakan bahwa sebentar lagi saatnya para petani padi akan menuai hasil dari kerja keras yang mereka lakukan selama 2,5 bulan ini.semua petani menunggu
penuh harap akan melakukan pemanenan dalam waktu dekat ini dan harapan tinggi untuk mendapatkan hasil berupa gabah kering yang akan disimpan untuk kebutuhan hidup satu tahun kedepan dan jika berlebih dapat dijual untuk menutupi kebutuhan hidup. lahan sawah tadah hujan kawasan gampong Lhamlhom merupakan areal persawahan yang terkena hantaman Tsunami pada 26 Desember 2004 dimana banyak penelitian yang dilakukan untuk mencoba mengembalikan kesuburan tanah seperti saat sebelum Tsunami melanda. setelah 5 tahun berlalu para petani padi sawah sudah mulai dapat tersenyum dengan hasil yang didapat dimana kesuburan tanah telah kembali meningkat dan petani mempunyai harapan untuk mendapatkan hasil yang meningkat pula. pada musim panen tahun ini sepertinya petani dihadapi pada persoalan lama dimana burung pipit haji yang merupakan burung alami di areal persawahan meningkat populasinya sehingga petani padi sawah merasa terganggu dan melakukan berbagai upaya untuk melindungi areal persawahan. secara umum ganguan ini dikatagorikan HAMA, ada hama babi petani melakukan pemagaran, perburuan dan peemberian racun, hama wereng dan kawan-kawannya petani melakukan penyemprotan pestisida, jumlah burung pipit yang meningkat petani melakukan langkah pemasangan jaring, perangkap dan pemasangan kaleng bekas untuk menakuti burung pipit. Keong emas petani masih agak ramah dengan melakukan penangkapan, caranya memberikan daun pepaya pada lahan padi yang dengan harapan keong mas akan berkumpul agar mudah ditangkap.
dari kesemuanya sepertinya pata petani padi sawah mempunyai perang nyata melawan "Hama" penyerang tanaman padi sawah, siapa peduli??? semua mengacungkan jari, Pemerintah, LSM, Universitas,Swasta dengan segala macam program dari penelitian, pemberian subsidi, diskon obat-obatan dan racun, program  organik, SRI dan masih banyak lagi yang lainnya. Dimana Petani??? kami tetap di lahan sawah, apa yang dilakukan? untuk hama babi udah dipagar sawahnya, untuk hama sudah beres dengan racun seminggu sekali, kalau burung??? ini dia yang kami pusing mikirinnya....sahut bang piah, ditembak gak habis-habis, ditangkap sama perangkap masih banyak juga, jalan terakhir pasang segala macam di lahan persawahan untuk menakut-nakuti cicem (aceh:burung) agar tidak mendekat tanaman padi.
maka sepanjang lahan persawahan kita bisa melihat penggunaan kantong plastik menggantung warna-warni menyemarakkan areal persawahan seperti parade tejuhbelasan. bunyi kaleng susu yang telah diisi batu, ada orang - orangan dengan jaket terbaru, serta pemasangan tali pancing diatas lahan padi sawah....
pemasangan tali pancing dengan jarak 30 cm

ini perang dan pemenangnya? "kamoe berdoa di jok hase nyang meulimpah" (kami berdoa diberikan hasil yang berlimpah)...amin....bang Piah berdoa penuh harap.
dan perang ini terus berlanjut sampai kapan?.......
si burung pipit terus terbang berparade, mendarat dari sati lokasi dan terbang pindah menuju lokasi lain terus melakukan hal yang sama sepanjang hari, mereka bernyanyi:
Kami berpesta setahun sekali
kami terbang dan mendarat
bulir padi yang menguning
makanan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ukuran 460 x 122 pixel Komunitas Blogger Aceh